Ngerasa gini gak? Tiap tahun UMR (Upah Minimum) kayaknya naik. Gaji kita juga (mungkin) naik dikit. Tapi anehnya, kok tiap akhir bulan tetep ‘ megap-megap’, ya? Nggak bisa nabung!
Kenalin ‘musuh’ kita: Inflasi Gaya Hidup (Lifestyle Creep). Ini penyakit ‘halus’. Dulu, ngopi saset cukup. Sekarang, minimal latte Rp 30 ribu. Dulu, nonton TV cukup. Sekarang, harus subscribe Netflix, Disney+, Spotify. Nggak sadar, pengeluaran ‘bengkak’!
‘Healing’ Tipis-Tipis = ‘Boncos’ Kronis
Penyakit ini makin parah gara-gara ‘tekanan sosial’ di medsos. Kita ngerasa ‘wajib’ healing, wajib nongki di tempat hype, biar gak dibilang ‘ketinggalan’. Padahal, ‘healing’ tipis-tipis itu kalau dikumpulin jadi ‘boncos’ kronis.
Ini ‘jebakan Batman’ buat generasi sandwich profesional muda. Gaji pas-pasan, tapi tuntutan gaya hidup ‘selangit’. Solusinya? Brutal honesty sama dompet sendiri. Bedain mana ‘kebutuhan’ dan mana ‘keinginan’ FOMO. Gak semua yang ‘viral’ harus kita ‘beli’.
Intisari:
- Banyak profesional muda merasa gaji naik tapi tetap gak bisa nabung.
- Penyebabnya adalah ‘Inflasi Gaya Hidup’ (Lifestyle Creep): pengeluaran naik seiring pendapatan.
- Tekanan medsos (healing, nongki, subscribe) memperparah ‘jebakan’ ini.
- Solusinya adalah jujur membedakan antara ‘kebutuhan’ vs ‘keinginan’ akibat FOMO.

