Sulap Sampah Jadi Listrik: Potensi dan Tantangan Pengelolaan Sampah Menuju Ekonomi Sirkular

Sulap Sampah Jadi Listrik: Potensi dan Tantangan Pengelolaan Sampah Menuju Ekonomi Sirkular

0 0
Read Time:1 Minute, 0 Second

Indonesia menghadapi krisis pengelolaan sampah yang kronis. Kota-kota besar menghasilkan ribuan ton sampah setiap hari, dengan sebagian besar berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang sudah kelebihan kapasitas, seperti Bantar Gebang. Metode landfill (timbun) terbukti tidak berkelanjutan dan mencemari lingkungan.

Salah satu solusi yang didorong pemerintah adalah teknologi Waste-to-Energy (WTE) melalui Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Konsep ini bertujuan mengubah sampah yang tidak dapat didaur ulang menjadi energi listrik, mengurangi volume sampah di TPA secara drastis, sekaligus menghasilkan sumber energi baru.

Beberapa kota, seperti Surabaya dan Surakarta, telah mulai mengoperasikan PLTSa sebagai proyek percontohan. Teknologi ini diharapkan dapat menjadi solusi untuk masalah sampah perkotaan yang akut, mengubah masalah menjadi berkah (sampah menjadi listrik).

Namun, implementasi PLTSa tidak tanpa tantangan. Biaya investasi awal sangat tinggi, teknologi (terutama insinerator) harus dipastikan ramah lingkungan agar tidak memindahkan masalah polusi tanah ke polusi udara (dioksin), dan seringkali terkendala pemilahan sampah dari sumbernya.

Pengelolaan sampah modern tidak boleh hanya bertumpu pada PLTSa. Paradigma harus bergeser dari ‘kumpul-angkut-buang’ menjadi ekonomi sirkular. Ini mencakup pengurangan sampah dari hulu (reduce), penggunaan kembali (reuse), dan daur ulang (recycle), di mana WTE hanya menjadi opsi terakhir untuk residu yang benar-benar tidak bisa diolah lagi.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%